Potensi Unit Pengolahan Ikan Dengan Standar Internasional

Published on Author admin

Mantan ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Yogyakarta Nur Ahmad Affandi mengatakan Yogyakarta selalu menjadi produsen utama produk kelautan. Wilayah perairan Yogyakarta dalam dan relatif bersih sehingga menjadi tempat subur bagi pengembangbiakan ikan alami. Kepala eksekutif PT Tarumartani bahkan mengatakan kualitas ikan tuna dari Yogyakarta tidak kalah dengan ikan tuna fih dari Korea Selatan.

Namun, ekspor ikan segar belum dapat dilakukan langsung dari Yogyakarta karena daerah khusus tidak memiliki fasilitas pengolahan ikan dengan standar ekspor. Untuk mendapatkan persetujuan ekspor dan lisensi untuk pengolahan ikan di uni juga membutuhkan standar tertentu. Kepala Dinas Perikanan Yogyakarta Bayu Mukti Sasongka mengatakan, penting bagi Yogyakarta untuk memiliki Unit Pengolahan Ikan. Sadar akan potensi itu, pemerintah provinsi berencana untuk membangun unit pengolahan ikan dengan standar internasional setelah penyelesaian terminal ikan di Tanjung Adikarto di kabupaten Kulon Progo.

Bayu mengatakan unit pengolahan ikan dengan skala ekspor diperlukan mengingat potensi perikanan besar di wilayah perairan Yogyakarta. Diperkirakan hanya 1-2 persen dari potensi ikan di wilayah laut Yogyakarta yang telah dieksploitasi.

Artikel terkait: kampung inggris.

Berdasarkan data dari kantor Regional Kelautan dan Fiheries, pada tiga kuartal pertama tahun 2018, Yogyakarta menghasilkan 4.613 ton ikan laut. Karena Yogyakarta tidak memiliki unit pengolahan ikan dengan standar internasional, ikan dari Yogyakarta diberi label ikan dari daerah lain di mana ikan tersebut diekspor.

Dia mengatakan pembangunan unit pengolahan ikan harus ditunda hingga pengoperasian terminal ikan Tanjung Adikarto. Sejumlah kondisi lain harus dipenuhi seperti produksi ikan laut di wilayah tersebut harus cukup untuk memberi makan unit pengolahan. Dia mengatakan Yogyakarta saat ini memiliki puluhan unit pengolahan ikan yang dioperasikan oleh nelayan, tetapi semuanya berskala rendah hanya memproduksi nugget ikan, kerupuk ikan, presto, dan gulungan ikan untuk konsumsi dalam negeri.

Bayu mengatakan dia yakin bahwa setelah pengoperasian pelabuhan Tanjung Adikarto, produksi ikan laut diperkirakan akan meningkat secara signifikan hingga mencapai 270.000 ton per tahun. Saat ini produksi ikan laut kurang dari 10.000 per tahun.

Artikel terkait: kampung inggris pare kediri jawa timur.

Setelah pengoperasian pelabuhan Tanjung Adikarto, kapal-kapal penangkap ikan berukuran 10-30 gross ton (GT) atau lebih dapat mendarat di daerah itu. Saat ini hanya kapal penangkap ikan kecil yang bisa mendarat di daerah itu.

Pelabuhan Tanjung Adikarto diharapkan akan beroperasi hanya di 021 sebagai konstruksi akan dimulai pada 2020. Studi kelayakan akan dilakukan pada 2019. Dukungan dari Bandara Internasional Baru Yogyakarta. Setelah pelabuhan Tanjung Adikarto dan unit pemrosesan ikan dengan standar internasional beroperasi, ekspor ikan segar dari Yogyakarta diperkirakan akan meningkat tajam.

Ekspor akan didukung oleh pengoperasian Bandara Internasional Baru Yogyakarta di Kulon Progo, yang akan mulai beroperasi pada April 2019. General Manager operator bandara milik negara Angkasa Pura 1 dari bandara Adisutjipto Agus Pandu Purnama mengatakan dukungan untuk ekspor ikan segar dari Yogyakarta akan lebih konkret dengan penyediaan area yang luas khusus untuk kargo.

Artikel terkait: kampung inggris spesialis speaking.

Agus mengatakan Angkasa Pura berencana membangun desa kargo di kompleks bandara baru. Desa kargo akan mengadopsi ‘layanan satu atap’. Di ‘desa kargo’ orang dapat mengirim dan menerima barang ekspor dan ort dengan sia-sia.

Kantor perwakilan Bank Indonesia (KPBI) di Yogyakarta mendorong bank-bank di daerah itu untuk memberikan kredit bagi perusahaan yang berorientasi ekspor termasuk perusahaan perikanan. Industri perikanan berpotensi untuk dikeluarkan, oleh karena itu, layak mendapatkan dukungan perbankan, kata kepala KPBI Yogyakarta Budi Hanoto.